Keutamaan Zikir✨
🔈Sebelumnya mengingatkan, penulisan yang benar adalah Zikir bukan Dzikir. (kamus KBBI V)
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Orang yang berzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
⠀ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ù…َعَ الَّذِينَ اتَّÙ‚َÙˆْا Ùˆَالَّذِينَ Ù‡ُÙ…ْ Ù…ُØْسِÙ†ُونَ
⠀ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl: 128)
Karena hati ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan zikir pada Allah ‘azza wa jalla.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Zikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari zikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini.
Orang yang senantiasa berzikir ketika berada di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala,
Ø¥ِذَا زُÙ„ْزِÙ„َتِ الْØ£َرْضُ زِÙ„ْزَالَÙ‡َا (1) ÙˆَØ£َØ®ْرَجَتِ الْØ£َرْضُ Ø£َØ«ْÙ‚َالَÙ‡َا (2) ÙˆَÙ‚َالَ الْØ¥ِÙ†ْسَانُ Ù…َا Ù„َÙ‡َا (3) ÙŠَÙˆْÙ…َئِذٍ تُØَدِّØ«ُ Ø£َØ®ْبَارَÙ‡َا (4) بِØ£َÙ†َّ رَبَّÙƒَ Ø£َÙˆْØَÙ‰ Ù„َÙ‡َا (5)
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)
jika seseorang menyibukkan diri dengan zikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), perkataan sia-sia, memuji-muji manusia, dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tadi. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.
Sekian, Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat.
Terima kasih telah berkunjung dan membaca:)
🔈Sebelumnya mengingatkan, penulisan yang benar adalah Zikir bukan Dzikir. (kamus KBBI V)
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Orang yang berzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
⠀ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ù…َعَ الَّذِينَ اتَّÙ‚َÙˆْا Ùˆَالَّذِينَ Ù‡ُÙ…ْ Ù…ُØْسِÙ†ُونَ
⠀ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl: 128)
Karena hati ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan zikir pada Allah ‘azza wa jalla.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Zikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari zikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini.
Orang yang senantiasa berzikir ketika berada di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala,
Ø¥ِذَا زُÙ„ْزِÙ„َتِ الْØ£َرْضُ زِÙ„ْزَالَÙ‡َا (1) ÙˆَØ£َØ®ْرَجَتِ الْØ£َرْضُ Ø£َØ«ْÙ‚َالَÙ‡َا (2) ÙˆَÙ‚َالَ الْØ¥ِÙ†ْسَانُ Ù…َا Ù„َÙ‡َا (3) ÙŠَÙˆْÙ…َئِذٍ تُØَدِّØ«ُ Ø£َØ®ْبَارَÙ‡َا (4) بِØ£َÙ†َّ رَبَّÙƒَ Ø£َÙˆْØَÙ‰ Ù„َÙ‡َا (5)
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)
jika seseorang menyibukkan diri dengan zikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), perkataan sia-sia, memuji-muji manusia, dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tadi. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.
Sekian, Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat.
Terima kasih telah berkunjung dan membaca:)

0 komentar:
Posting Komentar